''Jawab mereka: ''Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.'' (Matius 14:17)
Sebuah gereja hendak mengadakan acara perjamuan kasih pada ibadah tengah pekan. Kepada jemaat diumumkan agar masing-masing membawa roti dan sebotol kecil anggur. Maksudnya, nanti tiap makanan itu akan dikumpulkan menjadi satu untuk disantap bersama-sama. Sedang anggurnya akan dituang menjadi satu dalam satu tong sebagai minumannya. Seorang jemaat lalu berpikir dalam hati. ''Kenapa harus bawa anggur, toh yang lain juga sudah bawa? Kalaupun aku membawa air putih saja tentu tidak akan berpengaruh jika sudah bercampur dengan anggur lainnya.'' Acara perjamuan kasih pun dimulai. Betapa kagetnya semua jemaat itu sebab ternyata yang mereka minum ternyata hanya air biasa dan bukannya anggur. Mengapa bisa demikian? Selidik punya selidik ternyata semua jemaat punya pikiran yang sama seperti jemaat yang membawa air putih itu. ''Toh hanya saya, pasti tidak ada pengaruhnya!'' katanya.
Kisah yang sangat menggelikan, bukan? Sekarang perhatikan bacaan firman Tuhan hari ini. Dari sekian ribu orang yang mengikuti perjalanan Yesus, ternyata hanya ada seorang anak kecil yang dengan rela menyerahkan lima roti dan dua ikan yang menjadi bekalnya. Bagaimana dengan yang lain? Apakah memang tak seorangpun yang membawa bekal? Kemungkinan besar tidak. Tapi, jelas tak satupun yang rela menyerahkan selain anak itu. Mereka mungkin juga berpikir, ''Toh bekal saya hanya sedikit, tidak akan berpengaruh untuk ribuan orang ini. Banyak orang punya lebih dariku. Itu tugas mereka!''
Nah, berapa banyak kita yang sering berpikir demikian dalam hal memberi, berbagi, dan melayani?
Yesus sangat menghargai apa pun yang kita serahkan kepada-Nya. Sesederhana apapun yang kita punya, Yesus menghargai karena ketaatan dan iman kita. Kenyataannya, Tuhan yang Maha Adil pasti juga akan lebih melimpahkan berkat kepada mereka yang mau dengan rela dan tulus berani memberi. Persembahkan yang terbaik dari apapun yang kita punya kepada -Nya. Ingatlah bahwa Tuhan tidak melihat kuantitasnya, melainkan kualitas, yaitu sikap hati kita.
Di tangan Tuhan, hal yang paling sederhana pun dapat menjadi sesuatu yang besar.
Tuhan Yesus Memberkati
Passionate Journey Into Life's Purpose
Rabu, 24 November 2010
Menangkap Rembulan
''Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.''(Keluaran 20:3)
Seekor burung hantu merasa kesal karena bulan tidak bisa selalu muncul di malam hari. Ia bertekad, ''Nanti, ketika malam bulan purnama tiba, aku akan menangkap bulan! Akan kusimpan di puncak pohon tertinggi, supaya ketika malam tiba, aku bisa menikmati cahayanya sepuasnya. Malam akan selalu jadi terang. Tidak perlu lagi berlama-lama menunggu malam purnama tiba.'' Pikir si burung hantu. Hingga malam bulan purnama yang di nanti pun tiba, burung hantu bersiap di puncak pohon tertinggi. Tekadnya bulat, malam ini ia akan menangkap bulan. Setitik cahaya muncul dari balik bukit. Dengan bersemangat, burung hantu terbang kencang menuju sumber cahaya. Makin dekat dan makin dekat. Bulan pun tampak makin besar. Burung hantu terus terbang. Makin kencang dan makin kencang. Cakarnya sudah siap menangkap bulan ketika tiba-tiba saja...Duaaar!!! Tubuhnya terpental, terkapar berlumuran darah, sekarat di atas aspal. Rupanya, burung hantu itu bukannya menangkap bulan, tapi ia menbrak lampu mobil yang datang dari balik bukit dengan kecepatan tinggi.
Kisah di atas cuma dongeng, tapi kita tahu, banyak hal mengerikan terjadi ketika orang nekad, rela melakukan apa saja untuk memenuhi kepuasan pribadinya. Wajah yang rusak karena melakukan operasi plastik, ruamh tangga hancur karena mengutamakan kesuksesan karier di atas segalanya, terlibat kasus korupsi karena ingin kaya, dan masih banyak contoh lainnya. Mungkin anda setuju, dalam hidup, kita tidak boleh memiliki sikap mudah berpuas diri. Tapi, tentu saja bukan berarti kita harus menjadi orang-orang ambisius yang tidak pernah bisa merasa puas. Apalagi sampai nekad, rela melakukan apa saja untuk memenuhi kepuasan pribadi. Saat ini, apakah Tuhan masih menjadi sosok yang istimewa dalam hidup kita? Atau jangan-jangan sudah ada hal lain yang menggantikan-Nya? Dalam menjalani hidup, kita semua punya mimpi-mimpi. Tapi, lebih dari mimpi-mimpi tersebut, kiranya sementara kita berlari mengejar mimpi-mimpi, kita tetap menyertakan Tuhan senantiasa. Jangan sekali-kali melupakan-Nya sebab apapun yang terjadi Ia harus tetap menjadi yang terutama.
Tuhan Yesus Memberkati
Seekor burung hantu merasa kesal karena bulan tidak bisa selalu muncul di malam hari. Ia bertekad, ''Nanti, ketika malam bulan purnama tiba, aku akan menangkap bulan! Akan kusimpan di puncak pohon tertinggi, supaya ketika malam tiba, aku bisa menikmati cahayanya sepuasnya. Malam akan selalu jadi terang. Tidak perlu lagi berlama-lama menunggu malam purnama tiba.'' Pikir si burung hantu. Hingga malam bulan purnama yang di nanti pun tiba, burung hantu bersiap di puncak pohon tertinggi. Tekadnya bulat, malam ini ia akan menangkap bulan. Setitik cahaya muncul dari balik bukit. Dengan bersemangat, burung hantu terbang kencang menuju sumber cahaya. Makin dekat dan makin dekat. Bulan pun tampak makin besar. Burung hantu terus terbang. Makin kencang dan makin kencang. Cakarnya sudah siap menangkap bulan ketika tiba-tiba saja...Duaaar!!! Tubuhnya terpental, terkapar berlumuran darah, sekarat di atas aspal. Rupanya, burung hantu itu bukannya menangkap bulan, tapi ia menbrak lampu mobil yang datang dari balik bukit dengan kecepatan tinggi.
Kisah di atas cuma dongeng, tapi kita tahu, banyak hal mengerikan terjadi ketika orang nekad, rela melakukan apa saja untuk memenuhi kepuasan pribadinya. Wajah yang rusak karena melakukan operasi plastik, ruamh tangga hancur karena mengutamakan kesuksesan karier di atas segalanya, terlibat kasus korupsi karena ingin kaya, dan masih banyak contoh lainnya. Mungkin anda setuju, dalam hidup, kita tidak boleh memiliki sikap mudah berpuas diri. Tapi, tentu saja bukan berarti kita harus menjadi orang-orang ambisius yang tidak pernah bisa merasa puas. Apalagi sampai nekad, rela melakukan apa saja untuk memenuhi kepuasan pribadi. Saat ini, apakah Tuhan masih menjadi sosok yang istimewa dalam hidup kita? Atau jangan-jangan sudah ada hal lain yang menggantikan-Nya? Dalam menjalani hidup, kita semua punya mimpi-mimpi. Tapi, lebih dari mimpi-mimpi tersebut, kiranya sementara kita berlari mengejar mimpi-mimpi, kita tetap menyertakan Tuhan senantiasa. Jangan sekali-kali melupakan-Nya sebab apapun yang terjadi Ia harus tetap menjadi yang terutama.
Tuhan Yesus Memberkati
Umpan Maut
Seorang Pendeta suatu hari sedang cuti di sebuah desa yang sejuk di kaki pegunungan. Ketika sedang santai menikmati pemandangan indah di sekitarnya, ia dikejutkan dengan pemandangan agak aneh: sekelompok babi berjalan mengikuti seorang pria menuju ke suatu tempat.
Timbul rasa ingin tahu pada Pendeta itu, sehingga ia mengikuti rombongan babi itu dari belakang. Ia ingin tahu sedang menuju ke manakah babi-babi itu. Akhirnya ia melihat babi-babi itu masuk ke rumah jagal dan mati disembelih untuk makanan manusia.
Pak Pendeta kemudian mendekati pria yang menggiring babi-babi itu dan bertanya: ''Pak, bolehkah aku bertanya apa rahasianya sehingga babi-babi itu kelihatnnya begitu taat kepadamu, sehingga engkau dengan mudah menggiring mereka masuk ke rumah jagal?''
Pria itu tersenyum dan berkata: ''Sebenarnya sih tidak ada rahasia, pada tanganku aku memegang sebuah wadah yang penuh dengan makanan yang disukai babi-babi itu, dan sambil berjalan kujatuhkan sedikit dari makanan itu ke tanah dan babi-babi itu memakannya dengan lahap. Demikian seterusnya, sampai akhirnya tiba di rumah jagal.''
Melalui peristiwa ini kita mendapat sebuah pengertian baru tentang cara kerja si iblis. Bukankah iblis juga memegang makanan yang disukai manusia pada tangannya sebagai umpan, dan di sepanjang jalan kehidupan dia jatuhkan sedikit demi sedikit, lalu manusia yang bodoh memakan umpan ini tanpa tahu bahwa perjalanan yang penuh dengan umpan iblis itu ujungnya menuju maut. Demikian terus-menerus, sedikit demi sedikit, satu umpan disusul dengan umpan yang berikutnya sampai akhirnya tanpa disadari orang itu masuk ke dalam neraka! Mari berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini, jangan mau tertipu oleh umpan dari si iblis yang kelihatannya nikmat hanya sesaat saja, padahal ujungnya menuju kepada kematian kekal.
''Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya.'' (1 Petrus 5:8)
Tuhan Yesus Memberkati
Timbul rasa ingin tahu pada Pendeta itu, sehingga ia mengikuti rombongan babi itu dari belakang. Ia ingin tahu sedang menuju ke manakah babi-babi itu. Akhirnya ia melihat babi-babi itu masuk ke rumah jagal dan mati disembelih untuk makanan manusia.
Pak Pendeta kemudian mendekati pria yang menggiring babi-babi itu dan bertanya: ''Pak, bolehkah aku bertanya apa rahasianya sehingga babi-babi itu kelihatnnya begitu taat kepadamu, sehingga engkau dengan mudah menggiring mereka masuk ke rumah jagal?''
Pria itu tersenyum dan berkata: ''Sebenarnya sih tidak ada rahasia, pada tanganku aku memegang sebuah wadah yang penuh dengan makanan yang disukai babi-babi itu, dan sambil berjalan kujatuhkan sedikit dari makanan itu ke tanah dan babi-babi itu memakannya dengan lahap. Demikian seterusnya, sampai akhirnya tiba di rumah jagal.''
Melalui peristiwa ini kita mendapat sebuah pengertian baru tentang cara kerja si iblis. Bukankah iblis juga memegang makanan yang disukai manusia pada tangannya sebagai umpan, dan di sepanjang jalan kehidupan dia jatuhkan sedikit demi sedikit, lalu manusia yang bodoh memakan umpan ini tanpa tahu bahwa perjalanan yang penuh dengan umpan iblis itu ujungnya menuju maut. Demikian terus-menerus, sedikit demi sedikit, satu umpan disusul dengan umpan yang berikutnya sampai akhirnya tanpa disadari orang itu masuk ke dalam neraka! Mari berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini, jangan mau tertipu oleh umpan dari si iblis yang kelihatannya nikmat hanya sesaat saja, padahal ujungnya menuju kepada kematian kekal.
''Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya.'' (1 Petrus 5:8)
Tuhan Yesus Memberkati
Bayar Hari Ini
''Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan, dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi?'' (Pengkhotbah 9:10).
Sebuah SPBU memasang baliho besar berisi tulisan ''Bayar hari ini, besok gratis.'' Melihat baliho itu, para pengemudi mobil dan motor ramai-ramai mengisi bensin di SPBU itu dengan harapan besok mendapatkan bensin gratis. Esoknya, para pembeli yang kemaren membeli kembali datang dan minta bensin gratis sesuai apa yang tertulis di baliho. Namun, petugas SPBU dengan ringan menjawab ''Hari ini bayar, besok baru gratis.'' Para pembeli itu akhirnya mengisi bensin dengan membayar dan pulang dengan menggerutu karena meraka sadar bahwa yang disebut besok itu memang tak akan pernah datang karena SPBU itu tak menuliskan secara jelas kapan.
Kisah tentang baliho SPBU itu memberi satu pesan kepada kita untuk jangan pernah menunda-nunda menyelesaikan segala sesuatu yang bisa kita kerjakan hari ini. Hari ini memiliki masalahnya sendiri dan hari esok memiliki masalahnya sendiri sehingga jangan pernah menunda-nunda membereskan segala sesuatu. Orang yang selalu menunda-nunda melakukan sesuatu seringkali menjadi yang paling mudah digilas oleh perubahan zaman. Orang yang selalu menunda-nunda belajar menggunakan komputer misalnya, akan menyesali diri saat segala sesuatu kemudian telah dikomputerisasi. Orang yang menunda-nunda pekerjaan sampai tenggang waktu yang ditetapkan akan terpaksa lembur dan sangat menderita karena harus mati-matian menyelesaikan pekerjaan. Orang yang suka menunda-nunda memperbaiki dan menservice mobilnya ke bengkel akan sangat menyesal saat mendadak mobilnya mogok justru ketika dia sangat membutuhkannya.
Keberhasilan dan kemenangan hanya mampu kita miliki kalau kita memiliki kebiasaan menyelesaikan segala sesuatu dengan segera dan menghargai waktu. Nyatanya, seringkali hari esok yang kita nantikan itu juga ditentukan oleh hari ini. Kesempatan yang kita punya untuk melakukan yang terbaik adalah hari ini. Oleh karena itu, prinsip yang harus kita pegang adalah: bekerjalah seakan ini hari terakhir kita hidup di dunia dan gantunglah mimpi kita setinggi langit seakan-akan kita akan hidup seribu tahun lagi.
Waktu yang ada hari ini adalah kesempatan terbaik yang kita miliki.
Tuhan Yesus Memberkati
Sebuah SPBU memasang baliho besar berisi tulisan ''Bayar hari ini, besok gratis.'' Melihat baliho itu, para pengemudi mobil dan motor ramai-ramai mengisi bensin di SPBU itu dengan harapan besok mendapatkan bensin gratis. Esoknya, para pembeli yang kemaren membeli kembali datang dan minta bensin gratis sesuai apa yang tertulis di baliho. Namun, petugas SPBU dengan ringan menjawab ''Hari ini bayar, besok baru gratis.'' Para pembeli itu akhirnya mengisi bensin dengan membayar dan pulang dengan menggerutu karena meraka sadar bahwa yang disebut besok itu memang tak akan pernah datang karena SPBU itu tak menuliskan secara jelas kapan.
Kisah tentang baliho SPBU itu memberi satu pesan kepada kita untuk jangan pernah menunda-nunda menyelesaikan segala sesuatu yang bisa kita kerjakan hari ini. Hari ini memiliki masalahnya sendiri dan hari esok memiliki masalahnya sendiri sehingga jangan pernah menunda-nunda membereskan segala sesuatu. Orang yang selalu menunda-nunda melakukan sesuatu seringkali menjadi yang paling mudah digilas oleh perubahan zaman. Orang yang selalu menunda-nunda belajar menggunakan komputer misalnya, akan menyesali diri saat segala sesuatu kemudian telah dikomputerisasi. Orang yang menunda-nunda pekerjaan sampai tenggang waktu yang ditetapkan akan terpaksa lembur dan sangat menderita karena harus mati-matian menyelesaikan pekerjaan. Orang yang suka menunda-nunda memperbaiki dan menservice mobilnya ke bengkel akan sangat menyesal saat mendadak mobilnya mogok justru ketika dia sangat membutuhkannya.
Keberhasilan dan kemenangan hanya mampu kita miliki kalau kita memiliki kebiasaan menyelesaikan segala sesuatu dengan segera dan menghargai waktu. Nyatanya, seringkali hari esok yang kita nantikan itu juga ditentukan oleh hari ini. Kesempatan yang kita punya untuk melakukan yang terbaik adalah hari ini. Oleh karena itu, prinsip yang harus kita pegang adalah: bekerjalah seakan ini hari terakhir kita hidup di dunia dan gantunglah mimpi kita setinggi langit seakan-akan kita akan hidup seribu tahun lagi.
Waktu yang ada hari ini adalah kesempatan terbaik yang kita miliki.
Tuhan Yesus Memberkati
Menjaga Hubungan
''Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan mencari kesenangan kita sendiri." (Roma 15:1)
Di suatu pasar tradisional di Yogyakarta, seorang ibu penjual klepon (makanan tradisional jawa) baru saja menggelar dagangannya ketika seorang turis asing mendatanginya. Turis itu bermaksud memborong seluruh klepon dagangannya dengan harga lebih tinggi. Namun di luar dugaan, ibu tersebut menolaknya. Mengapa? Ia bersedia dagangannya dibeli, tapi ia tidak setuju apabila diborong semua. Ibu tersebut malah menunjukkan lokasi penjual-penjual klepon lain di pasar tersebut. Ternyata ia memiliki alasan yang kuat melakukan hal tersebut. Yang pertama adalah ia ingin berbagi rejeki dengan pedagang klepon lainnya. Yang kedua, ibu itu memiliki pelanggan yang selalu datang di jam tertentu untuk membeli kleponnya. Ia tidak ingin mengecewakan pelanggan-pelanggan setianya. Dari ibu yang sederhan itu, kita bisa belajar dua hal penting tentang relasi dalam dunia kerja.
Dalam buku ''Managing Ethic Business'', Linda Klebe Trevino dan Katherine A. Nelson mengajukan pertanyaan: ''Apakah di dalam bisnis harus selalu ada pihak yang menang dan kalah?'' Apakah bisnis yang berhasil adalah semata-mata ketika kita meraih keuntungan? Ternyata tidak. Di dalam bisnis kita disebut punya keberhasilan sejati jika kita bisa merayakan kesuksesan bersama dengan rekan bahkan kompetitor kita. Kita dapat meraup keuntungan sembari yang lain juga dapat diuntungkan. Ibu penjual klepon itu mungkin tak mengerti teori bisnis, tetapi dia sukses mempraktekkan apa yang dikatakan Linda dan Katherine. Meraih keuntungan sekaligus mengembangkan hubungan.
Hubungan memang tak tergantikan. Sukses dalam membina hubungan akan memberi keuntungan pada diri kita sendiri untuk jangka panjang. Ibu penjual klepon itu sadar, ada waktunya nanti dia juga akan butuh bantuan dari rekan-rekannya sesama penjual klepon. Ia juga mengerti ia dapat kehilangan pelanggan-pelanggan setianya ketika ia didapati ''tidak setia'' dan tidak menepati janji. Bagimana dengan kita? Ingatlah bahwa hubungan yang terjaga akan memberi keuntungan yang lebih panjang dari pada keuntungan besar yang singkat. Prinsip menjaga hubungan inilah yang perlu kita jadikan salah satu prinsip dalam bisnis kita.
Kesuksesan membina hubungan akan membawa sukses dalam jangka panjang.
Tuhan Yesus Memberkati
Di suatu pasar tradisional di Yogyakarta, seorang ibu penjual klepon (makanan tradisional jawa) baru saja menggelar dagangannya ketika seorang turis asing mendatanginya. Turis itu bermaksud memborong seluruh klepon dagangannya dengan harga lebih tinggi. Namun di luar dugaan, ibu tersebut menolaknya. Mengapa? Ia bersedia dagangannya dibeli, tapi ia tidak setuju apabila diborong semua. Ibu tersebut malah menunjukkan lokasi penjual-penjual klepon lain di pasar tersebut. Ternyata ia memiliki alasan yang kuat melakukan hal tersebut. Yang pertama adalah ia ingin berbagi rejeki dengan pedagang klepon lainnya. Yang kedua, ibu itu memiliki pelanggan yang selalu datang di jam tertentu untuk membeli kleponnya. Ia tidak ingin mengecewakan pelanggan-pelanggan setianya. Dari ibu yang sederhan itu, kita bisa belajar dua hal penting tentang relasi dalam dunia kerja.
Dalam buku ''Managing Ethic Business'', Linda Klebe Trevino dan Katherine A. Nelson mengajukan pertanyaan: ''Apakah di dalam bisnis harus selalu ada pihak yang menang dan kalah?'' Apakah bisnis yang berhasil adalah semata-mata ketika kita meraih keuntungan? Ternyata tidak. Di dalam bisnis kita disebut punya keberhasilan sejati jika kita bisa merayakan kesuksesan bersama dengan rekan bahkan kompetitor kita. Kita dapat meraup keuntungan sembari yang lain juga dapat diuntungkan. Ibu penjual klepon itu mungkin tak mengerti teori bisnis, tetapi dia sukses mempraktekkan apa yang dikatakan Linda dan Katherine. Meraih keuntungan sekaligus mengembangkan hubungan.
Hubungan memang tak tergantikan. Sukses dalam membina hubungan akan memberi keuntungan pada diri kita sendiri untuk jangka panjang. Ibu penjual klepon itu sadar, ada waktunya nanti dia juga akan butuh bantuan dari rekan-rekannya sesama penjual klepon. Ia juga mengerti ia dapat kehilangan pelanggan-pelanggan setianya ketika ia didapati ''tidak setia'' dan tidak menepati janji. Bagimana dengan kita? Ingatlah bahwa hubungan yang terjaga akan memberi keuntungan yang lebih panjang dari pada keuntungan besar yang singkat. Prinsip menjaga hubungan inilah yang perlu kita jadikan salah satu prinsip dalam bisnis kita.
Kesuksesan membina hubungan akan membawa sukses dalam jangka panjang.
Tuhan Yesus Memberkati
Senin, 22 November 2010
Jangan Menjadi Tuhan
Linda adalah seorang istri dan ibu yang perfeksionis. Ia menjaga rumah tetap bersih, memasak makanan yang sangat enak, dan juga menjadi sukarelawan di gereja, di sekolah anak-anaknya, dan komunitasnya. Ia berusaha menjadi segalanya bagi semua orang, dan seringkali frustasi dan terkuras fisiknya. Namun tetap saja ia tidak mau melepaskan yang mana pun dari komitmennya atau menurunkan standarnya. Ia merasa ia harus sempurna dan melakukan segala sesuatu yang dilakukannya untuk mempertahankan cinta suaminya.
Krisis menimpa Linda ketika suaminya berkata kepadanya bahwa ia akan meninggalkan Linda bila Linda tidak menguangi kesibukannya dan melepaskan beberapa tanggung jawabnya. Linda merespons dengan marah dan mengambil lebih banyak tanggung jawab dari pada sebelumnya. Ia akhirnya masuk rumah sakit karena kelelahan. Sewaktu dirawat di rumah sakit, Linda takut segalanya akan kacau balau karena ia tidak ada di rumah dan komunitasnya. Ketika ia melihat bahwa dunia tetap berputar tanpa dirinya, anak-anaknya tetap mengenakan pakaian bersih, makanan tetap tersedia, Linda mulai santai untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun. Hasilnya bukan saja pemulihan kesehatannya sendiri, melainkan hubungannya dengan keluarganya juga dikuatkan.
Kita bukanlah Tuhan yang bisa melakukan segala sesuatunya untuk setiap orang dengan sempurna. Lakukanlah apa yang harus kita lakukan dengan baik, namun buatlah pilihan kita dengan bijak, dan batasilah pada apa yang benar-benar dibutuhkan, dan benar-benar menjadi bidang keahlian kita, karena membaktikan sebagian kecil dari diri kita pada segala-galanya berarti justru tidak membaktikan sebagian besar dari diri kita.
''Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.' (Roma 12:3)
Tuhan Yesus Memberkati
Krisis menimpa Linda ketika suaminya berkata kepadanya bahwa ia akan meninggalkan Linda bila Linda tidak menguangi kesibukannya dan melepaskan beberapa tanggung jawabnya. Linda merespons dengan marah dan mengambil lebih banyak tanggung jawab dari pada sebelumnya. Ia akhirnya masuk rumah sakit karena kelelahan. Sewaktu dirawat di rumah sakit, Linda takut segalanya akan kacau balau karena ia tidak ada di rumah dan komunitasnya. Ketika ia melihat bahwa dunia tetap berputar tanpa dirinya, anak-anaknya tetap mengenakan pakaian bersih, makanan tetap tersedia, Linda mulai santai untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun. Hasilnya bukan saja pemulihan kesehatannya sendiri, melainkan hubungannya dengan keluarganya juga dikuatkan.
Kita bukanlah Tuhan yang bisa melakukan segala sesuatunya untuk setiap orang dengan sempurna. Lakukanlah apa yang harus kita lakukan dengan baik, namun buatlah pilihan kita dengan bijak, dan batasilah pada apa yang benar-benar dibutuhkan, dan benar-benar menjadi bidang keahlian kita, karena membaktikan sebagian kecil dari diri kita pada segala-galanya berarti justru tidak membaktikan sebagian besar dari diri kita.
''Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.' (Roma 12:3)
Tuhan Yesus Memberkati
Sabtu, 06 November 2010
Tak Bisa Sendiri
''Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.'' (1 Korintus 3:9)
Alex Haley, penulis buku laris ''Roots'', selalu memasang gambar kura-kura yang berada di atas pagar tinggi, di dalam kantornya. Gambar ini cukup unik karena tidak mungkin kura-kura bisa memanjat pagar tapi kenyataanya toh kura-kura tersebut berada di atas pagar. Alex Haley berkata, ''Bila Anda melihat seekor kura-kura bertengger di atas pagar, Anda tahu bahwa binatang itu bisa sampai ke sana karena ada orang yang mengangkatnya.'' Haley memasang gambar kura-kura tersebut menjadi pengingat dirinya bahwa kesuksesan tidak akan pernah bisa dicapai seorang diri. Kesuksesan terjadi karena ada orang lain yang menolongnya untuk naik.
Karena itu sangatlah menggelikan melihat kenyataan bahwa beberapa orang menyombongkan kesuksesannya sendiri, seolah-olah kesuksesannya tersebut merupakan hasil kerjanya sendiri saja. Coba kita pikir lebih sederhana, mungkinkah seseorang bisa sukses tanpa bantuan orang lain?
Mungkinkah seorang konglomerat bisa sukses kalau dia tidak dibantu oleh staf dan karyawannya? Demikian juga halnya kemenangan seorang atlet tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh dukungan dan bantuan tim pendukungnya. Dalam olahraga balap motor misalnya, kemenangan seorang bintang balap pun tidak lepas dari pelatih, teknisi motor, dan seluruh tim.
Kita tidak akan pernah bisa meraih puncak sukses seorang diri. Cara pandang ini menghindarkan kita dari sikap sombong, menghilangkan sikap percaya diri yang berlebihan, dan membuat kita lebih menghargai orang-orang yang ada di sekeliling kita. Jika kita seorang pemimpin tertinggi dalam sebuah perusahaan, apakah kita juga menghargai seluruh karyawan kita, termasuk karyawan yang bekerja dalam bagian yang sangat sederhana seperti penjaga keamanan, office boy, atau pekerja kasar? Bagaimana seandainya satu hari saja mereka semua memutuskan untuk tidak masuk kerja? Bukankah harus disadari bahwa kinerja perusahaan pasti terganggu? Ini bukti bahwa setiap orang memberikan pengaruh terhadap keberhasilan kita. Kita tak ubahnya seperti kura-kura yang bisa naik ke pagar karena ada banyak orang yang mengangkat kita.
Di balik setiap kesuksesan, selalu ada orang-orang yang mendukungnya.
Tuhan Yesus Memberkati
Bayar Hari Ini
''Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan, dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi?'' (Pengkhotbah 9:10)
Sebuah SPBU memasang baliho besar berisi tulisan ''Bayar hari ini, besok gratis.'' Melihat baliho itu, para pengemudi mobil dan motor ramai-ramai mengisi bensin di SPBU itu dengan harapan besok mendapatkan bensin gratis. Esoknya, para pembeli yang kemaren membeli kembali datang dan minta bensin gratis sesuai apa yang tertulis di baliho. Namun, petugas SPBU dengan ringan menjawab ''Hari ini bayar, besok baru gratis.'' Para pembeli itu akhirnya mengisi bensin dengan membayar dan pulang dengan menggerutu karena meraka sadar bahwa yang disebut besok itu memang tak akan pernah datang karena SPBU itu tak menuliskan secara jelas kapan.
Kisah tentang baliho SPBU itu memberi satu pesan kepada kita untuk jangan pernah menunda-nunda menyelesaikan segala sesuatu yang bisa kita kerjakan hari ini. Hari ini memiliki masalahnya sendiri dan hari esok memiliki masalahnya sendiri sehingga jangan pernah menunda-nunda membereskan segala sesuatu. Orang yang selalu menunda-nunda melakukan sesuatu seringkali menjadi yang paling mudah digilas oleh perubahan zaman. Orang yang selalu menunda-nunda belajar menggunakan komputer misalnya, akan menyesali diri saat segala sesuatu kemudian telah dikomputerisasi. Orang yang menunda-nunda pekerjaan sampai tenggang waktu yang ditetapkan akan terpaksa lembur dan sangat menderita karena harus mati-matian menyelesaikan pekerjaan. Orang yang suka menunda-nunda memperbaiki dan menservice mobilnya ke bengkel akan sangat menyesal saat mendadak mobilnya mogok justru ketika dia sangat membutuhkannya.
Keberhasilan dan kemenangan hanya mampu kita miliki kalau kita memiliki kebiasaan menyelesaikan segala sesuatu dengan segera dan menghargai waktu. Nyatanya, seringkali hari esok yang kita nantikan itu juga ditentukan oleh hari ini. Kesempatan yang kita punya untuk melakukan yang terbaik adalah hari ini. Oleh karena itu, prinsip yang harus kita pegang adalah: bekerjalah seakan ini hari terakhir kita hidup di dunia dan gantunglah mimpi kita setinggi langit seakan-akan kita akan hidup seribu tahun lagi.
Waktu yang ada hari ini adalah kesempatan terbaik yang kita miliki.
Tuhan Yesus Memberkati
Sebuah SPBU memasang baliho besar berisi tulisan ''Bayar hari ini, besok gratis.'' Melihat baliho itu, para pengemudi mobil dan motor ramai-ramai mengisi bensin di SPBU itu dengan harapan besok mendapatkan bensin gratis. Esoknya, para pembeli yang kemaren membeli kembali datang dan minta bensin gratis sesuai apa yang tertulis di baliho. Namun, petugas SPBU dengan ringan menjawab ''Hari ini bayar, besok baru gratis.'' Para pembeli itu akhirnya mengisi bensin dengan membayar dan pulang dengan menggerutu karena meraka sadar bahwa yang disebut besok itu memang tak akan pernah datang karena SPBU itu tak menuliskan secara jelas kapan.
Kisah tentang baliho SPBU itu memberi satu pesan kepada kita untuk jangan pernah menunda-nunda menyelesaikan segala sesuatu yang bisa kita kerjakan hari ini. Hari ini memiliki masalahnya sendiri dan hari esok memiliki masalahnya sendiri sehingga jangan pernah menunda-nunda membereskan segala sesuatu. Orang yang selalu menunda-nunda melakukan sesuatu seringkali menjadi yang paling mudah digilas oleh perubahan zaman. Orang yang selalu menunda-nunda belajar menggunakan komputer misalnya, akan menyesali diri saat segala sesuatu kemudian telah dikomputerisasi. Orang yang menunda-nunda pekerjaan sampai tenggang waktu yang ditetapkan akan terpaksa lembur dan sangat menderita karena harus mati-matian menyelesaikan pekerjaan. Orang yang suka menunda-nunda memperbaiki dan menservice mobilnya ke bengkel akan sangat menyesal saat mendadak mobilnya mogok justru ketika dia sangat membutuhkannya.
Keberhasilan dan kemenangan hanya mampu kita miliki kalau kita memiliki kebiasaan menyelesaikan segala sesuatu dengan segera dan menghargai waktu. Nyatanya, seringkali hari esok yang kita nantikan itu juga ditentukan oleh hari ini. Kesempatan yang kita punya untuk melakukan yang terbaik adalah hari ini. Oleh karena itu, prinsip yang harus kita pegang adalah: bekerjalah seakan ini hari terakhir kita hidup di dunia dan gantunglah mimpi kita setinggi langit seakan-akan kita akan hidup seribu tahun lagi.
Waktu yang ada hari ini adalah kesempatan terbaik yang kita miliki.
Tuhan Yesus Memberkati
Kamis, 04 November 2010
Communication Breakdown
''Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.'' (Yakobus 1:19)
Seorang pemuda baru saja bekerja menjadi satpam di rumah seorang jutawan. Satu hari, ia sedang berkeliling di kediaman sang jutawan yang sangat luas tapi sepi. Tiba-tiba, ia melihat seorang pria sedang mengendap-endap masuk dari pintu belakang. ''Pencuri!'' Pikirnya. Dugaannya makin bulat saat pria asing itu menuju garasi mobil mewah si jutawan. Sebelum sesuatu terjadi, si satpam segera membekuknya. ''Kamu mau mencuri ya!'' Tuduh si satpam sambil menggelandang pria itu ke posnya.
''Bukan..'' Kata pria itu. ''Diam!!'' Bentak si satpam lagi. ''Saya tidak...'' ''Pokoknya diam!'' Potong si satpam. ''Tapi Pak.. ''Karena jengkel, si satpam lalu memukuli pria tersebut sampai ia tak berani bicara lagi. ''Kamu akan masuk penjara.Tunggu kalau bosku sudah pulang dari pernikahan anaknya. ''Kata si satpam. Pria yang babak belur itu berkata lemah, ''Tapi, sayalah mempelai prianya...''
Diakui atau tidak, banyak pertengkaran dan kebuntuan komunikasi terjadi karena orang suka buru-buru membuat kesimpulan sebelum mendengarkan. Seperti halnya ilustrasi di atas, kita tidak lagi mau mendengarkan orang lain karena kita sudah membuat kesimpulan sendiri. Tidak heran, biasanya yang terjadi adalah ucapan kita akan penuh dengan tudingan, tuduhan, dan kata ''kamu''.
Tepatlah jika satu kata bijak berkata, ''Jika kita suka melompat langsung kepada kesimpulan, Kita seringkali akan melewatkan kebenarannya.''
Jika dalam perdebatan, kalimat kita mulai dominasi kata ''kamu'', coba ganti kalimat itu dengan ''saya'' Jelaskan bagaimana perasaan kita sambil tetap melihat dengan objektif. Daripada berkata, ''Kamu memang tidak pernah mendengarkanku'', lebih baik berkata, ''Saya harap pertanyaan saya ditanggapi dulu.'' Ini yang disebut komunikasi asertif. Asertif berarti tegas tapi tidak menyerang.
Perdebatan sering berlarut-larut karena kedua pihak tidak secara jelas menyatakan pendapatnya sehingga keduanya saling membuat kesimpulan sendiri. selain itu, ingat bahwa tujuan berkomunikasi adalah mencari titik temu, bukan pembenaran pendapat pribadi.
Tuhan Yesus Memberkati
Seorang pemuda baru saja bekerja menjadi satpam di rumah seorang jutawan. Satu hari, ia sedang berkeliling di kediaman sang jutawan yang sangat luas tapi sepi. Tiba-tiba, ia melihat seorang pria sedang mengendap-endap masuk dari pintu belakang. ''Pencuri!'' Pikirnya. Dugaannya makin bulat saat pria asing itu menuju garasi mobil mewah si jutawan. Sebelum sesuatu terjadi, si satpam segera membekuknya. ''Kamu mau mencuri ya!'' Tuduh si satpam sambil menggelandang pria itu ke posnya.
''Bukan..'' Kata pria itu. ''Diam!!'' Bentak si satpam lagi. ''Saya tidak...'' ''Pokoknya diam!'' Potong si satpam. ''Tapi Pak.. ''Karena jengkel, si satpam lalu memukuli pria tersebut sampai ia tak berani bicara lagi. ''Kamu akan masuk penjara.Tunggu kalau bosku sudah pulang dari pernikahan anaknya. ''Kata si satpam. Pria yang babak belur itu berkata lemah, ''Tapi, sayalah mempelai prianya...''
Diakui atau tidak, banyak pertengkaran dan kebuntuan komunikasi terjadi karena orang suka buru-buru membuat kesimpulan sebelum mendengarkan. Seperti halnya ilustrasi di atas, kita tidak lagi mau mendengarkan orang lain karena kita sudah membuat kesimpulan sendiri. Tidak heran, biasanya yang terjadi adalah ucapan kita akan penuh dengan tudingan, tuduhan, dan kata ''kamu''.
Tepatlah jika satu kata bijak berkata, ''Jika kita suka melompat langsung kepada kesimpulan, Kita seringkali akan melewatkan kebenarannya.''
Jika dalam perdebatan, kalimat kita mulai dominasi kata ''kamu'', coba ganti kalimat itu dengan ''saya'' Jelaskan bagaimana perasaan kita sambil tetap melihat dengan objektif. Daripada berkata, ''Kamu memang tidak pernah mendengarkanku'', lebih baik berkata, ''Saya harap pertanyaan saya ditanggapi dulu.'' Ini yang disebut komunikasi asertif. Asertif berarti tegas tapi tidak menyerang.
Perdebatan sering berlarut-larut karena kedua pihak tidak secara jelas menyatakan pendapatnya sehingga keduanya saling membuat kesimpulan sendiri. selain itu, ingat bahwa tujuan berkomunikasi adalah mencari titik temu, bukan pembenaran pendapat pribadi.
Tuhan Yesus Memberkati
Kamis, 30 September 2010
Jangan Kosongkan Botol(Manusia Rohani) Anda
Suatu hari seseorang meletakkan sebuah botol berisi penuh air, di halaman rumahnya yang terbuka, dia ingin tahu berapa lama air di dalam botol itu akan habis menguap akibat sinar matahari yang begitu panas dan terik.
Beberapa hari kemudian dia menyaksikan air di dalam botol itu mulai berkurang hanya tinggal 3/4 nya saja, ternyata panas terik matahari benar-benar telah membuat air itu menguap.
Namun pada sore harinya dia menyaksikan kejadian yang agak sedikit berbeda, seekor anjing yang sedang berlarian tiba-tiba menyenggol botol tersebut hingga botol itu jatuh dan akibatnya, seluruh air yang ada di dalamnya tercecer ke luar, kini air dalam botol itu benar-benar habis, hanya tinggal beberapa tetes saja.
Manusia rohani kita bagaikan botol yang mula-mula kosong, setiap kali kita masuk dalam hadirat Tuhan, maka manusia rohani kita akan terisi dengan aliran air surgawi yang hidup dan begitu menyegarkan. Namun karena ada panas dan terik dalam kehidupan kita, mungkin beberapa masalah keluarga, sakit penyakit, masalah pekerjaan ataupun aktivitas pelayanan membuat air itu menguap sedikit demi sedikit, apalagi kalau tiba-tiba ada iblis lewat dan berhasil menyenggol kita hingga kita terjatuh, maka air hidup itu akan cepat lagi habis karena tumpah keluar.
Jadi jangan menunggu sampai air hidup dalam manusia rohani kita tinggal beberapa tetes, baru kemudian kita datang menghampiri hadirat-Nya, supaya kita tidak mengalami kerugian. Apalagi kalau kita sampai terjatuh, maka kita perlu secepatnya bangkit dan minta diisi kembali dalam hadirat Tuhan, karena jika tidak, kita akan mengalami kekeringan rohani.
''Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.'' (Mazmur 42:2)
Tuhan Yesus Memberkati
Jangan Egois
Di atas pesawat terbang Cesna ada tiga orang penumpang. Seorang pramuka, seorang pastor dan seorang usahawan. Tiba-tiba melalui pengeras suara terdengar suara pilot, ''Dalam beberapa detik lagi pesawat akan jatuh. Sayangnya kita hanya memiliki tiga parasut. Saya perlu satu parasut, karena harus melaporkan bencana ini.'' lalu pilot tersebut langsung terjun dengan parasutnya.
''Saya juga perlu mengambil satu,'' kata usahawan dengan gugup dan tergesa-gesa, ''Saya harus selamat, karena saya mempunyai peranan besar dalam kehidupan manusia.'' Lalu sang pengusaha pun menyusul pilot.
Kini hanya tinggal Sang Pastor dan si pramuka dengan satu parasut yang tersisa.
Sang Pastor menatap si pramuka. ''Nak!'' katanya, ''Saya pastor yang sudah tua dan puas menjalani kehidupan ini. Sedangkan kau masih sangat muda dan harus menjalaninya. Karena itu ambillah parasut ini, dan kiranya Tuhan memberkatimu...''
''Jangan bersedih pastor.'' Kata si pramuka. ''Kita masih punya dua parasut, yang diambil pengusaha tadi adalah ransel saya.''
Ya, kita mungkin tersenyum membayangkan ketololan yang dilakukan oleh si pengusaha tadi. Karena terlalu egois, dan didorong oleh sikap mementingkan diri sendiri, pengusaha tadi justru melakukan kecerobohon, sehingga bukannya keselamatan yang dia peroleh, namun justru kematian. Bukankah itu yang seringkali terjadi dalam dunia yang penuh dengan persaingan ini? Semua orang berlomba-lomba hanya untuk memikirkan dan mengutamakan kepentingan dirinya sendiri tanpa mau lagi mempedulikan orang lain.
Namun mari kita renungkan sejenak, bahwa Tuhan Yesus justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Bila kita ingin diberkati, bila kita ingin menerima, maka kita harus memberi terlebih dahulu. Kita harus melayani dan mengutamakan orang lain terlebih dahulu, karena hanya dengan memberi kita akan menerima.
Jadi jangan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tapi pikirkanlah kepentingan orang lain juga, maka Bapa kita yang di surga akan memikirkan kepentingan kita juga.
''Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.'' (Matius 16:25)
Tuhan Yesus Memberkati
''Saya juga perlu mengambil satu,'' kata usahawan dengan gugup dan tergesa-gesa, ''Saya harus selamat, karena saya mempunyai peranan besar dalam kehidupan manusia.'' Lalu sang pengusaha pun menyusul pilot.
Kini hanya tinggal Sang Pastor dan si pramuka dengan satu parasut yang tersisa.
Sang Pastor menatap si pramuka. ''Nak!'' katanya, ''Saya pastor yang sudah tua dan puas menjalani kehidupan ini. Sedangkan kau masih sangat muda dan harus menjalaninya. Karena itu ambillah parasut ini, dan kiranya Tuhan memberkatimu...''
''Jangan bersedih pastor.'' Kata si pramuka. ''Kita masih punya dua parasut, yang diambil pengusaha tadi adalah ransel saya.''
Ya, kita mungkin tersenyum membayangkan ketololan yang dilakukan oleh si pengusaha tadi. Karena terlalu egois, dan didorong oleh sikap mementingkan diri sendiri, pengusaha tadi justru melakukan kecerobohon, sehingga bukannya keselamatan yang dia peroleh, namun justru kematian. Bukankah itu yang seringkali terjadi dalam dunia yang penuh dengan persaingan ini? Semua orang berlomba-lomba hanya untuk memikirkan dan mengutamakan kepentingan dirinya sendiri tanpa mau lagi mempedulikan orang lain.
Namun mari kita renungkan sejenak, bahwa Tuhan Yesus justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Bila kita ingin diberkati, bila kita ingin menerima, maka kita harus memberi terlebih dahulu. Kita harus melayani dan mengutamakan orang lain terlebih dahulu, karena hanya dengan memberi kita akan menerima.
Jadi jangan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tapi pikirkanlah kepentingan orang lain juga, maka Bapa kita yang di surga akan memikirkan kepentingan kita juga.
''Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.'' (Matius 16:25)
Tuhan Yesus Memberkati
Kerja Adalah Sebuah Kehormatan
Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan ia pun menyantap makanan yang di pesan. Saat pemuda itu makan, datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, ''Pak, mau beli kue, Pak?''
Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab ''Tidak, saya sedang makan.''
Anak tersebut tidaklah putus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab ''Tidak dik, saya sudah kenyang.''
Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berfikir ''Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah.''
Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini. Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut, anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan. ''Pak, mau beli kue saya?''
Pemuda yang ditawarkan jadi risih juga. Ia kemudian keluarkan uang Rp. 1.500, dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja. ''Dik, ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik. ''Uang yang diberikan pemuda itu memang ia ambil, namun ternyata lalu diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasih kepada oarang lain. ''Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?'' Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab. ''Saya sudah janji sama ibu dirumah, bahwa saya akan menjual kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, karena ibu saya tidak suka saya jadi pengemis dan saya akan bangga pulang kerumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. ''Pemuda tadi jadi kagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil namun telah mempunyai sikap bahwa kerja itu adalah sebuah kehormatan. Pemuda tadi akhirnya memborong semua kue yang dijajakan anak kecil tersebut, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar, tapi karena prinsip kerja yang dimiliki oleh anak kecil itu, yaitu ''kerja adalah sebuah kehormatan'' dan bahwa ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.
Kiranya kisah tadi bisa menyadarkan kita, bahwa kerja bukan hanya sekedar untuk uang semata, namun ada sebuah kehormatan, sebuah anugerah dari Tuhan, agar kita dapat berkarya, memaksimalkan potensi kita untuk kemuliaan nama Tuhan.
''Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu.'' (Yohanes 6:27a)
Tuhan Yesus Memberkati
Jangan Tinggalkan Kapten Kapal Anda
Suatu hari di sebuah Akademi Angkatan Laut, seorang Letnan muda sedang bersiap-siap untuk menyelesaikan studinya mengenai bagaimana cara berlayar yang baik dan bagaimana cara mengendalikan kapal dengan cepat dan efisien. Di bawah serangkaian perintahnya yang tegas dan singkat, para awak kapal menyibukkan diri melaksanakan perintahnya itu, dan dengan cepat kapal segera berlayar meninggalkan pelabuhan menuju laut lepas. Efisiensi dan kehebatan Letnan Muda itu dalam mengatur seluruh awak kapal sangatlah mengagumkan, sehingga banyak awak kapal yang berbisik-bisik dan memuji cara kerja Letnan Muda itu, bahkan beberapa orang berkata bahwa Letnan muda itu telah mencatat rekor baru dalam mengendalikan kapal tersebut.
Letnan muda itu begitu bangga dengan hasil jerih payahnya dan sama sekali tidak merasa heran ketika seorang kelasi mendekatinya sambil membawa pesan dari Kapten Kapal, penguasa tertinggi di kapal tersebut. Namun, segera saja Letnan muda itu terkejut bukan main, karena pesan itu adalah sebuah pesan dari radio, dan mukanya segera berubah pucat, ketika membaca pesan tersebut,..tertulis dalam pesan itu ''Saya sebagai Kapten kapal mengucapkan selamat atas prestasi anda dalam latihan ini, tetapi karena anda terlalu tergesa-gesa, anda telah mengabaikan salah satu hukum tak tertulis yang seharusnya wajib anda taati, yaitu pastikan bahwa Kapten kapal berada di atas kapal sebelum anda berangkat berlayar. Saat ini anda telah meninggalkan saya, karena saya masih berada di pelabuhan.
Rupanya karena tergesa-gesa dan terlalu fokus untuk meraih hasil yang terbaik, Letnan muda ini lupa membawa serta atasannya dan langsung memberangkatkan kapal tanpa mengikut sertakan sang Kapten kapal.
Bukankah dalam hidup ini, kita seringkali bersikap seperti Letnan muda tadi, kita terlalu fokus untuk meraih berbagai keberhasilan yang ditawarkan oleh dunia ini, sehingga kita justru melupakan satu hal, yaitu kita lupa mengajak Yesus, Sang Kapten kapal, untuk masuk dalam bahtera kehidupan kita masing-masing, sehingga ketika badai mulai menerpa, kita mulai kebingungan, karena keahlian kita masih belum cukup memadai untuk meredakan kapal tersebut. Jadi jangan melupakan hal yang paling penting dalam perjalanan hidup ini, yaitu pastikan bahwa Yesus Sang Kapten kapal ada dalam bahtera kehidupan kita masing-masing.
''Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!'' (Yeremia 17:7)
Tuhan Yesus Memberkati
Letnan muda itu begitu bangga dengan hasil jerih payahnya dan sama sekali tidak merasa heran ketika seorang kelasi mendekatinya sambil membawa pesan dari Kapten Kapal, penguasa tertinggi di kapal tersebut. Namun, segera saja Letnan muda itu terkejut bukan main, karena pesan itu adalah sebuah pesan dari radio, dan mukanya segera berubah pucat, ketika membaca pesan tersebut,..tertulis dalam pesan itu ''Saya sebagai Kapten kapal mengucapkan selamat atas prestasi anda dalam latihan ini, tetapi karena anda terlalu tergesa-gesa, anda telah mengabaikan salah satu hukum tak tertulis yang seharusnya wajib anda taati, yaitu pastikan bahwa Kapten kapal berada di atas kapal sebelum anda berangkat berlayar. Saat ini anda telah meninggalkan saya, karena saya masih berada di pelabuhan.
Rupanya karena tergesa-gesa dan terlalu fokus untuk meraih hasil yang terbaik, Letnan muda ini lupa membawa serta atasannya dan langsung memberangkatkan kapal tanpa mengikut sertakan sang Kapten kapal.
Bukankah dalam hidup ini, kita seringkali bersikap seperti Letnan muda tadi, kita terlalu fokus untuk meraih berbagai keberhasilan yang ditawarkan oleh dunia ini, sehingga kita justru melupakan satu hal, yaitu kita lupa mengajak Yesus, Sang Kapten kapal, untuk masuk dalam bahtera kehidupan kita masing-masing, sehingga ketika badai mulai menerpa, kita mulai kebingungan, karena keahlian kita masih belum cukup memadai untuk meredakan kapal tersebut. Jadi jangan melupakan hal yang paling penting dalam perjalanan hidup ini, yaitu pastikan bahwa Yesus Sang Kapten kapal ada dalam bahtera kehidupan kita masing-masing.
''Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!'' (Yeremia 17:7)
Tuhan Yesus Memberkati
Sumber Berkat Atau Penyalur Berkat?
Di sebuah kota, hiduplah seorang konglomerat yang sangat kaya, bersama seorang putra tunggalnya. Tidak seperti kebanyakan orang kaya, yang umumnya selalu memanjakan anaknya, konglomerat ini justru berbuat suatu hal yang sangat berbeda. Dia tidak menuruti semua permintaan anaknya, namun hanya memberi secukupnya, sesuai dengan kebutuhan sang anak, tidak pernah kurang dan juga tidak pernah berlebihan. Yang agak aneh konglomerat ini justru dengan gampangnya membagikan hartanya kepada orang lain yang sangat membutuhkan.
Suatu hari seorang tetangganya mengecam apa yang diperbuat oleh konglomerat itu. Tetangganya berkata, ''Sebetulnya engkau dapat lebih banyak membantu anakmu, dengan menuruti semua keinginannya, jika saja engkau mau mengurangi bantuanmu kepada orang lain dan memberikannya untuk anakmu.''
Konglomerat ini menjawab dengan bijaksana, ''Mungkin engkau benar, tetapi jika saya selalu menuruti segala keinginan anak saya, bukankah dia akan melupakan perlunya bersandar pada Tuhan? dia akan memandang saya sebagai satu-satunya sumber yang dapat memenuhi segala keinginannya, dan akan sulit baginya untuk bersandar kepada Bapa sorgawi bila setiap keinginannya saya penuhi. Jika ini yang terjadi saya justru tidak membantu anak saya sama sekali, karena kemampuan saya sangat terbatas, sementara kemampuan Bapa sorgawi tidak terbatas.''
Ya, bagimanakah selama ini kita mendidik anak kita, pasangan hidup kita, atau orang-orang yang kita kasihi? apakah kita bersikap sebagai sumber berkat, seolah-olah kita yang memenuhi semua kebutuhan dan keinginan mereka, atau apakah kita bersikap hanya sebagai penyalur berkat, sehingga setiap anak kita, pasangan hidup kita maupun orang-orang yang kita kasihi, tetap berharap dan bergantung sepenuhnya kepada sumber berkat yaitu Bapa Sorgawi.
Jadi janganlah bersikap seolah-olah kita adalah sumber berkat, tapi mari bersikap bahwa kita hanyalah penyalur berkat.
''Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.'' (Amsal 13:24)
Tuhan Yesus Memberkati
Suatu hari seorang tetangganya mengecam apa yang diperbuat oleh konglomerat itu. Tetangganya berkata, ''Sebetulnya engkau dapat lebih banyak membantu anakmu, dengan menuruti semua keinginannya, jika saja engkau mau mengurangi bantuanmu kepada orang lain dan memberikannya untuk anakmu.''
Konglomerat ini menjawab dengan bijaksana, ''Mungkin engkau benar, tetapi jika saya selalu menuruti segala keinginan anak saya, bukankah dia akan melupakan perlunya bersandar pada Tuhan? dia akan memandang saya sebagai satu-satunya sumber yang dapat memenuhi segala keinginannya, dan akan sulit baginya untuk bersandar kepada Bapa sorgawi bila setiap keinginannya saya penuhi. Jika ini yang terjadi saya justru tidak membantu anak saya sama sekali, karena kemampuan saya sangat terbatas, sementara kemampuan Bapa sorgawi tidak terbatas.''
Ya, bagimanakah selama ini kita mendidik anak kita, pasangan hidup kita, atau orang-orang yang kita kasihi? apakah kita bersikap sebagai sumber berkat, seolah-olah kita yang memenuhi semua kebutuhan dan keinginan mereka, atau apakah kita bersikap hanya sebagai penyalur berkat, sehingga setiap anak kita, pasangan hidup kita maupun orang-orang yang kita kasihi, tetap berharap dan bergantung sepenuhnya kepada sumber berkat yaitu Bapa Sorgawi.
Jadi janganlah bersikap seolah-olah kita adalah sumber berkat, tapi mari bersikap bahwa kita hanyalah penyalur berkat.
''Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.'' (Amsal 13:24)
Tuhan Yesus Memberkati
Yang Tak Kelihatan
Pernahkah anda mengunjungi negara Selandia Baru? Jika kita ke sana dan tiba di kota Rotora, maka kita akan mendapati sebatang pohon redwood yang merupakan salah satu pohon terbesar dan terkuat di dunia. Pohon ini sangat hebat, karena walau ada badai yang amat dahsyat sekalipun, pohon redwood ini akan tetap berdiri dengan kokohnya. Wow...hebat bukan? tetapi tahukah anda bagaimana pohon ini bisa sekuat itu?
Ternyata, pada saat pertama kali di tanam, tidak terlihat adanya pertumbuhan dari pohon ini. Tapi jangan salah sangka, ternyata akar dari pohon ini bertumbuh ke dalam tanah, bergerak dan terus bergerak, semakin lama semakin dalam, dan semakin dalam, untuk membangun kekuatan di dalamnya. Baru setelah 3 tahun, pohon ini mulai menampakkan pertumbuhan ke atas dan menjadi semakin besar. Karena itulah walau ada badai sehebat apapun, pohon ini tetap kokoh berdiri karena akarnya sudah sedemikian kuat menahan batang pohon tersebut.
Bukankah hal ini yang seharusnya juga terjadi dalam kehidupan kita? Namun seringkali yang terjadi justru sebaliknya. Seringkali kita menginginkan semuanya serba instan, ingin cepat berhasil, ingin cepat kaya, ingin cepat menduduki posisi tertentu, ingin pelayanan yang sukses dengan cepat, dan hal-hal lain yang bisa dilihat orang. Seringkali kita lebih mengutamakan hal yang kelihatan, namun melupakan yang terpenting, yaitu hal yang tidak kelihatan. Bahkan, seringkali kita malas untuk membangun dasar yang kokoh, yaitu hubungan pribadi kita dengan Tuhan.
Jadi, bila kita ingin menang dalam menghadapi setiap badai kehidupan, bila kita ingin mengalami keberhasilan dalam setiap bidang kehidupan kita, mari membangun dasar yang kokoh terlebih dahulu, yaitu hubungan pribadi kita dengan Tuhan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.
''Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang tak kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.'' (2 Korintus 4:18)
Tuhan Yesus Memberkati
Ternyata, pada saat pertama kali di tanam, tidak terlihat adanya pertumbuhan dari pohon ini. Tapi jangan salah sangka, ternyata akar dari pohon ini bertumbuh ke dalam tanah, bergerak dan terus bergerak, semakin lama semakin dalam, dan semakin dalam, untuk membangun kekuatan di dalamnya. Baru setelah 3 tahun, pohon ini mulai menampakkan pertumbuhan ke atas dan menjadi semakin besar. Karena itulah walau ada badai sehebat apapun, pohon ini tetap kokoh berdiri karena akarnya sudah sedemikian kuat menahan batang pohon tersebut.
Bukankah hal ini yang seharusnya juga terjadi dalam kehidupan kita? Namun seringkali yang terjadi justru sebaliknya. Seringkali kita menginginkan semuanya serba instan, ingin cepat berhasil, ingin cepat kaya, ingin cepat menduduki posisi tertentu, ingin pelayanan yang sukses dengan cepat, dan hal-hal lain yang bisa dilihat orang. Seringkali kita lebih mengutamakan hal yang kelihatan, namun melupakan yang terpenting, yaitu hal yang tidak kelihatan. Bahkan, seringkali kita malas untuk membangun dasar yang kokoh, yaitu hubungan pribadi kita dengan Tuhan.
Jadi, bila kita ingin menang dalam menghadapi setiap badai kehidupan, bila kita ingin mengalami keberhasilan dalam setiap bidang kehidupan kita, mari membangun dasar yang kokoh terlebih dahulu, yaitu hubungan pribadi kita dengan Tuhan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.
''Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang tak kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.'' (2 Korintus 4:18)
Tuhan Yesus Memberkati
Apakah Motivasi Kita?
Seorang pengembara melakukan perjalanan melewati padang pasir, Di tengah-tengah perjalanan itu, dia menemukan sebuah mata air yang kesegaran airnya tak tertandingi. Setelah memuaskan rasa hausnya, diambilnyalah sedikit air itu, dan dimasukkan ke dalam sebuah kantong kulit yang sudah tua.
Setelah melewati hari-hari yang sangat panas dan penuh dengan terik matahari, sampailah si pengembara di istana Raja, untuk memberikan air tersebut. Ketika air itu dicicipi oleh sang raja, air itu sudah tidak segar lagi dan berbau apek karena disimpan di dalam kantong tua. Namun raja mencicipi air itu dengan gembira dan penuh rasa terimakasih.
Sang pengembara akhirnya meninggalkan istana dengan sangat bahagia. Setelah pengembara itu pergi, segera saja para pegawai istana ikut mencicipi air itu, dan mereka langsung terheran-heran, karena ternyata air itu sangat tidak enak. Mereka lalu bertanya, kenapa sang raja begitu menikmati kesegaran air tersebut. Akhirnya raja berkata dengan perlahan : ''Sebenarnya yang aku rasakan bukanlah air itu, melainkan kasih yang telah mendorongnya untuk mempersembahkan air itu kepadaku.''
Mungkin apa yang selama ini telah kita lakukan dalam melayani Tuhan, penuh dengan kelemahan dan kekurangan, tetapi Bapa kita di surga sangat menghargai dan bersukacita bila pelayanan itu kita lakukan dengan setia, penuh kasih, dan dengan motivasi yang benar.
Mungkin dalam pandangan orang lain, pelayanan itu kurang berarti,......kurang mendatangkan sesuatu yang enak, namun jangan berkecil hati, karena Tuhan melihat motivasi di balik pelayanan kita. Mari melayani Tuhan hanya karena kita mengasihi Dia dan mengasihi jiwa-jiwa, karena hal itu akan menutupi kelemahan dan kekurangan kita.
''Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.'' (1 Korintus 13:1)
Tuhan Yesus Memberkati
Setelah melewati hari-hari yang sangat panas dan penuh dengan terik matahari, sampailah si pengembara di istana Raja, untuk memberikan air tersebut. Ketika air itu dicicipi oleh sang raja, air itu sudah tidak segar lagi dan berbau apek karena disimpan di dalam kantong tua. Namun raja mencicipi air itu dengan gembira dan penuh rasa terimakasih.
Sang pengembara akhirnya meninggalkan istana dengan sangat bahagia. Setelah pengembara itu pergi, segera saja para pegawai istana ikut mencicipi air itu, dan mereka langsung terheran-heran, karena ternyata air itu sangat tidak enak. Mereka lalu bertanya, kenapa sang raja begitu menikmati kesegaran air tersebut. Akhirnya raja berkata dengan perlahan : ''Sebenarnya yang aku rasakan bukanlah air itu, melainkan kasih yang telah mendorongnya untuk mempersembahkan air itu kepadaku.''
Mungkin apa yang selama ini telah kita lakukan dalam melayani Tuhan, penuh dengan kelemahan dan kekurangan, tetapi Bapa kita di surga sangat menghargai dan bersukacita bila pelayanan itu kita lakukan dengan setia, penuh kasih, dan dengan motivasi yang benar.
Mungkin dalam pandangan orang lain, pelayanan itu kurang berarti,......kurang mendatangkan sesuatu yang enak, namun jangan berkecil hati, karena Tuhan melihat motivasi di balik pelayanan kita. Mari melayani Tuhan hanya karena kita mengasihi Dia dan mengasihi jiwa-jiwa, karena hal itu akan menutupi kelemahan dan kekurangan kita.
''Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.'' (1 Korintus 13:1)
Tuhan Yesus Memberkati
Rabu, 22 September 2010
Ciptaan Lama Atau Ciptaan Baru?
Suatu ketika, seekor kucing betina jatuh cinta terhadap seorang pemuda tampan yang tidak lain adalah anak dari majikannya sendiri. Hari demi hari berlalu, dan kucing betina ini semakin mencintai pemuda tersebut, namun apa daya, dia hanyalah seekor kucing yang mencintai seorang manusia, sehingga tidak mungkin bila mereka menjadi sepasang kekasih, karena pasti aneh bukan? apalagi kucing ini hanyalah seekor kucing peliharaan dari pemuda tampan tersebut. Suatu hari, kucing ini berdoa,...berdoa...dan terus berdoa tiada henti. Ia memohon kepada sang pencipta supaya dirinya diubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik.
Mendengar doa si kucing yang sungguh-sungguh, tiba-tiba malaikat datang dan mengabulkan permohonan doanya. Kini, kucing tersebut berubah menjadi seorang pemudi yang sangat cantik. Akhirnya mereka berpacaran, dan tak lama kemudian mereka pun menikah dan menjadi keluarga yang bahagia.
Di tengah kebahagiaan pasangan muda ini, tiba-tiba malaikat yang mengabulkan doa si kucing datang melihat perkembangan dari kehidupan si kucing yang telah berubah menjadi wanita cantik itu. Malaikat ini lalu mengambil seekor tikus yang kecil dan sangat menarik, kemudian melepaskan tikus kecil itu di antara pasangan muda ini. Melihat seekor tikus, spontan saja si pemuda terkejut dan berusaha menghindar, namun sebaliknya yang dilakukan oleh istrinya itu sungghuh berbeda. Si istri berusaha mengejar tikus terrsebut dan akhirnya berhasil menangkapnya. ''Ma, lepaskan, lepaskan,......tikus itu kan kotor, hati-hati...ma..nanti digigit,'' kata suaminya dengan spontan. Namun dengan santai istrinya menjawab, ''Tidak pa, tikus ini lucu, dan menarik, inilah yang sebenarnya mama rindukan selama ini,'' dan ia pun lalu memakan tikus itu dengan lahapnya.
Ya, memang menjijikkan melihat seorang wanita memakan seekor tikus dengan lahap, hal itu terjadi karena wanita tersebut tidak mau meninggalkan kehidupan lamanya, sebagai seekor kucing. Walaupun secara fisik ia telah berubah menjadi manusia, namun ternyata sifat-sifatnya yang lama sebagai seekor kucing tetap tiadak berubah.
Bukankah kita seringkali bersikap demikian, walaupun secara rohani, kita telah berubah dari anak terhilang menjadi anak raja,namun seringkali sifat-sifat kita yang lama, gaya hidup kita yang lama, yang penuh dengan dosa, masih tetap ada dan belum berubah. Mari menjadi ciptaan yang benar-benar baru, supaya kita tidak melakukan hal-hal yang menjijikkan.
''Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.'' (Roma 6:12)
Tuhan Yesus Memberkati
Mendengar doa si kucing yang sungguh-sungguh, tiba-tiba malaikat datang dan mengabulkan permohonan doanya. Kini, kucing tersebut berubah menjadi seorang pemudi yang sangat cantik. Akhirnya mereka berpacaran, dan tak lama kemudian mereka pun menikah dan menjadi keluarga yang bahagia.
Di tengah kebahagiaan pasangan muda ini, tiba-tiba malaikat yang mengabulkan doa si kucing datang melihat perkembangan dari kehidupan si kucing yang telah berubah menjadi wanita cantik itu. Malaikat ini lalu mengambil seekor tikus yang kecil dan sangat menarik, kemudian melepaskan tikus kecil itu di antara pasangan muda ini. Melihat seekor tikus, spontan saja si pemuda terkejut dan berusaha menghindar, namun sebaliknya yang dilakukan oleh istrinya itu sungghuh berbeda. Si istri berusaha mengejar tikus terrsebut dan akhirnya berhasil menangkapnya. ''Ma, lepaskan, lepaskan,......tikus itu kan kotor, hati-hati...ma..nanti digigit,'' kata suaminya dengan spontan. Namun dengan santai istrinya menjawab, ''Tidak pa, tikus ini lucu, dan menarik, inilah yang sebenarnya mama rindukan selama ini,'' dan ia pun lalu memakan tikus itu dengan lahapnya.
Ya, memang menjijikkan melihat seorang wanita memakan seekor tikus dengan lahap, hal itu terjadi karena wanita tersebut tidak mau meninggalkan kehidupan lamanya, sebagai seekor kucing. Walaupun secara fisik ia telah berubah menjadi manusia, namun ternyata sifat-sifatnya yang lama sebagai seekor kucing tetap tiadak berubah.
Bukankah kita seringkali bersikap demikian, walaupun secara rohani, kita telah berubah dari anak terhilang menjadi anak raja,namun seringkali sifat-sifat kita yang lama, gaya hidup kita yang lama, yang penuh dengan dosa, masih tetap ada dan belum berubah. Mari menjadi ciptaan yang benar-benar baru, supaya kita tidak melakukan hal-hal yang menjijikkan.
''Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.'' (Roma 6:12)
Tuhan Yesus Memberkati
Kekayaan Yang Terbesar
Di sebuah desa, hiduplah dua orang bersaudara, yang sama-sama menjadi petani. Mereka hidup di rumah yang terpisah dalam lahan pertanian keluarga, namun tiap hari mereka bertemu untuk bersama-sama mengerjakan ladang. Yang sulung sudah menikah dan mempunyai keluarga yang besar. Sedangkan si bungsu hidup seorang diri dan tetap membujang. Namun mereka selalu membagi hasil ladang dengan seimbang, masing-masing 50%. Suatu malam, si bungsu yang bujangan berpikir, ''Saudaraku bersusah payah menghidupi keluarganya yang besar, namun aku tetap mendapat setengah bagian dari seluruh hasil panen.''
Di dorong oleh rasa kasih yang menguasai hatinya, dia mengumpulkan barang yang telah dia beli dengan penghasilannya, barang-barang yang dia tahu dapat membantu keluarga saudaranya itu. Dia bermaksud untuk menyelinap ke rumah saudaranya, meletakkan barang-barang tadi disana, dan pergi dengan diam-diam.
Pada malam yang sama, saudaranya yang sudah menikah yakni si sulung, juga berpikir, ''Saudaraku hidup sendiri, dia tidak mengenal sukacitanya hidup berkeluarga.''
Karena kasihnya, dia pun mengambil keranjang, mengisinya dengan selimut dan roti buatan sendiri, serta beberapa barang untuk menghangatkan rumah adiknya itu. Dia bermaksud meninggalkan barang-barang tersebut di beranda dan pergi dengan diam-diam.
Dengan diam-diam, kedua orang itu mulai berjalan menuju kerumah saudaranya masing-masing, dan alangkah terkejutnya ketika di tengah pejalanan, mereka saling berpapasan. Kedua kakak adik itu akhirnya mengakui apa yang sedang mereka kerjakan. Dan dalam gelapnya malam, mereka bertangisan dan saling berpelukan. Masing-masing menyadari, bahwa kekayaan terbesar yang mereka miliki adalah saudara yang menghormati dan saling mengasihi.
Sudahkah kita menjadi harta terbesar bagi saudara-saudara kita, bagi orang di sekitar kita, atau bagi dunia ini? Karena adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.
''Sebab Ia sendiri telah mengatakan, Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.'' (Kisah Para Rasul 20:35b)
Tuhan Yesus Memberkati
Di dorong oleh rasa kasih yang menguasai hatinya, dia mengumpulkan barang yang telah dia beli dengan penghasilannya, barang-barang yang dia tahu dapat membantu keluarga saudaranya itu. Dia bermaksud untuk menyelinap ke rumah saudaranya, meletakkan barang-barang tadi disana, dan pergi dengan diam-diam.
Pada malam yang sama, saudaranya yang sudah menikah yakni si sulung, juga berpikir, ''Saudaraku hidup sendiri, dia tidak mengenal sukacitanya hidup berkeluarga.''
Karena kasihnya, dia pun mengambil keranjang, mengisinya dengan selimut dan roti buatan sendiri, serta beberapa barang untuk menghangatkan rumah adiknya itu. Dia bermaksud meninggalkan barang-barang tersebut di beranda dan pergi dengan diam-diam.
Dengan diam-diam, kedua orang itu mulai berjalan menuju kerumah saudaranya masing-masing, dan alangkah terkejutnya ketika di tengah pejalanan, mereka saling berpapasan. Kedua kakak adik itu akhirnya mengakui apa yang sedang mereka kerjakan. Dan dalam gelapnya malam, mereka bertangisan dan saling berpelukan. Masing-masing menyadari, bahwa kekayaan terbesar yang mereka miliki adalah saudara yang menghormati dan saling mengasihi.
Sudahkah kita menjadi harta terbesar bagi saudara-saudara kita, bagi orang di sekitar kita, atau bagi dunia ini? Karena adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.
''Sebab Ia sendiri telah mengatakan, Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.'' (Kisah Para Rasul 20:35b)
Tuhan Yesus Memberkati
Peniup Terompet
Suatu hari, seorang peniup terompet perang, tertangkap oleh pihak musuh. Peniup terompet ini memohon-mohon kepada para penangkapnya, ''Jangan bunuh saya pak, saya tidak punya senjata,...saya tidak melakukan kejahatan apapun,......saya tidak pernah membunuh satupun dari prajurit bapak,......Saya hanya membawa terompet jelek ini, dan membunyikannya pada saat diperintah.''
Dengan tegas para penangkapnya berkata, ''Itulah alasannya mengapa engkau harus dibunuh sekarang juga, karena, walaupun engkau sendiri tidak ikut bertarung, namun tiupan terompetmu telah membuat orang lain bertarung, dan itu yang menyebabkan mereka saling membunuh.''
Mungkin kita memang tidak pernah memukul seseorang, mungkin kita juga tidak pernah melukai seseorang, bahkan mungkin kita tidak pernah sekalipun membunuh seseorang.
Namun, mungkin setiap perkataan fitnah yang keluar dari mulut kita, setiap saksi dusta terhadap sesama kita, dan setiap kata-kata yang mengadu domba saudara kita, dapat membuat mereka saling membenci, saling melukai bahkan saling membunuh.
Mungkin kita tidak terlibat secara langsung, namun tiupan terompet kita, atau perkataan kita, dapat menghasilkan dampak yang lebih mengerikan bagi orang lain. Mari menjaga setiap perkataan dan ucapan kita, supaya jangan sampai orang lain mendapat musibah.
''Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam.'' (Amsal 25:18)
Tuhan Yesus Memberkati
Dengan tegas para penangkapnya berkata, ''Itulah alasannya mengapa engkau harus dibunuh sekarang juga, karena, walaupun engkau sendiri tidak ikut bertarung, namun tiupan terompetmu telah membuat orang lain bertarung, dan itu yang menyebabkan mereka saling membunuh.''
Mungkin kita memang tidak pernah memukul seseorang, mungkin kita juga tidak pernah melukai seseorang, bahkan mungkin kita tidak pernah sekalipun membunuh seseorang.
Namun, mungkin setiap perkataan fitnah yang keluar dari mulut kita, setiap saksi dusta terhadap sesama kita, dan setiap kata-kata yang mengadu domba saudara kita, dapat membuat mereka saling membenci, saling melukai bahkan saling membunuh.
Mungkin kita tidak terlibat secara langsung, namun tiupan terompet kita, atau perkataan kita, dapat menghasilkan dampak yang lebih mengerikan bagi orang lain. Mari menjaga setiap perkataan dan ucapan kita, supaya jangan sampai orang lain mendapat musibah.
''Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam.'' (Amsal 25:18)
Tuhan Yesus Memberkati
Ubah Diri Kita Terlebih Dahulu
Sebuah kapal perang dengan persenjataan lengkap, berlayar melalui perairan yang belum pernah mereka lalui. Tak berapa lama kemudian, kabut tebal turun meliputi perairan itu, sehingga pandangan para awak kapal sangatlah terbatas.
Tiba-tiba, melalui kabut, kapten kapal itu melihat apa yang tampak seperti sebuah sinar dari kapal lain mengarah ke jalan yang sedang dilewatinya. Segera, ia mengambil pengeras suaranya dan berteriak: Di sini Laksamana Smith dari Angkatan laut Amerika Serikat. Arahkan kapalmu 10 derajat ke selatan. Kalau tidak kita akan bertabrakan, dan saya perintahkan untuk segera dilaksanakna.''
Melalui kabut, ia mendengar suatu jawaban yang samar-samar, ''Di sini kelasi kelas empat Jones. Anda yang harus mengarahkan kapal anda sendiri 10 derajat ke utara.''
Laksamana itu berkata kepada dirinya sendiri, ''Orang ini adalah kelasi kelas empat, sementara aku adalah seorang Laksamana, berani benar dia.''
Sambill mengeraskan pengeras suaranya dan menggunakan nada berwibawa, ia membentak, ''Di sini Laksamana Smith dari Amerika Serikat ! Sekali lagi saya perintahkan !! Anda yang harus mengarahkan kapal anda 10 derajat ke selatan !
Melalui kabut, datanglah jawaban yang sama, ''Di sini kelasi kelas empat Jones, Anda harus mengarahkan kapal anda 10 derajat ke utara.''
Kemarahan Laksamana itu memuncak, sambil berteriak dia berkata, ''INI LAKSAMANA SMITH, SEGERA ARAHKAN KAPAL ANDA 10 DERAJAT KE SELATAN !!! DI SINI KAPAL PERANG !!!''
melalui kabut, suara yang mantap itu kembali menjawab, ''Di sini kelasi empat Jones, Arahkan kapal sendiri 10 derajat ke utara. Di sini MERCUSUAR!!!
Bukankah kita seringkali meminta orang lain untuk berubah, sementara diri kita tetap idak mau berubah? Bukankah kita seringkali bersikap egois, dengan berkata: kalau dia tidak berubah maka saya juga tidak mau berubah, seringkali kita merasa bahwa diri sendiri paling benar, sudah paling hebat, sehingga kita selalu menuntut orang lain yang harus berubah terlebih dahulu, padahal, bisa saja orang lain jauh lebih benar daripada kita. Jadi jangan menunggu orang lain untuk berubah, tetapi mari mengubah diri sendiri terlebih dahulu, supaya hidup kita tidak dihancurkan oleh kehidupan orang lain.
''Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan.'' (Amsal 3:7)
Tuhan Yesus Memberkati
Tiba-tiba, melalui kabut, kapten kapal itu melihat apa yang tampak seperti sebuah sinar dari kapal lain mengarah ke jalan yang sedang dilewatinya. Segera, ia mengambil pengeras suaranya dan berteriak: Di sini Laksamana Smith dari Angkatan laut Amerika Serikat. Arahkan kapalmu 10 derajat ke selatan. Kalau tidak kita akan bertabrakan, dan saya perintahkan untuk segera dilaksanakna.''
Melalui kabut, ia mendengar suatu jawaban yang samar-samar, ''Di sini kelasi kelas empat Jones. Anda yang harus mengarahkan kapal anda sendiri 10 derajat ke utara.''
Laksamana itu berkata kepada dirinya sendiri, ''Orang ini adalah kelasi kelas empat, sementara aku adalah seorang Laksamana, berani benar dia.''
Sambill mengeraskan pengeras suaranya dan menggunakan nada berwibawa, ia membentak, ''Di sini Laksamana Smith dari Amerika Serikat ! Sekali lagi saya perintahkan !! Anda yang harus mengarahkan kapal anda 10 derajat ke selatan !
Melalui kabut, datanglah jawaban yang sama, ''Di sini kelasi kelas empat Jones, Anda harus mengarahkan kapal anda 10 derajat ke utara.''
Kemarahan Laksamana itu memuncak, sambil berteriak dia berkata, ''INI LAKSAMANA SMITH, SEGERA ARAHKAN KAPAL ANDA 10 DERAJAT KE SELATAN !!! DI SINI KAPAL PERANG !!!''
melalui kabut, suara yang mantap itu kembali menjawab, ''Di sini kelasi empat Jones, Arahkan kapal sendiri 10 derajat ke utara. Di sini MERCUSUAR!!!
Bukankah kita seringkali meminta orang lain untuk berubah, sementara diri kita tetap idak mau berubah? Bukankah kita seringkali bersikap egois, dengan berkata: kalau dia tidak berubah maka saya juga tidak mau berubah, seringkali kita merasa bahwa diri sendiri paling benar, sudah paling hebat, sehingga kita selalu menuntut orang lain yang harus berubah terlebih dahulu, padahal, bisa saja orang lain jauh lebih benar daripada kita. Jadi jangan menunggu orang lain untuk berubah, tetapi mari mengubah diri sendiri terlebih dahulu, supaya hidup kita tidak dihancurkan oleh kehidupan orang lain.
''Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan.'' (Amsal 3:7)
Tuhan Yesus Memberkati
Langganan:
Postingan (Atom)